INSPIRASI CATATAN TERSEMBUNYI

By JOY AMARTA - April 27, 2017



CATATAN TERSEMBUNYI DALAM HATI
OLEH JOY AMARTA

Kelam malam semakin menusuk tubuh. Terkadang dalam kesepian terhempas rasa yang begitu syahdu pada kemesraan. Berkhayal dalam dekapan kasih sayang seorang imam yang berarti untuk hidup dan kehidupanku. Berjalan bersama dalam semisi dan sevisi, selaras dan sehati, sepandangan dan setujuan. Mungkin Tuhan tak perkenankan menjadi istri yang mendampingi apa yang aku mau, imam yang dengan kasih sayang penuh terhadap istri. Yang bicara lembut dan sopan terhadap istri, yang menatap lembut matanya kepada istri, yang mengucapkan salam setiap keluar rumah. Mimpi yang tak akan pernah terwujud mungkin sudah kehendak Tuhan. Pasrah seperti aliran paham Jabariyah. Imam yang bisa membangunkan istrinya diseperempat malam, yang bersama-sama dengan ucapan canda mesra, rayu-merayu. Alangkah bahagia bisa berjamaah bersama, dengan doa bersama, berharap yang sama pada tujuan yang sama, pada Rabb yang sama. Alangkah nikmatnya hidup dengan penuh rahmat kasih sayang. Tak ada bentak, kata kasar, pukul meja atau pun pukul lemari, air mata mengalir pastilah air mata behagia. Imam yang patuh pada aturan agama, menjauhi ghibah sesama lelaki, menjauhi prasangka buruk terhadap istrinya. Tidak mudah bercerita kepada teman, tidak mudah berkeluh kesah dengan teman, alangkah bahagia istri jika yang menjadi sandaran adalah dirinya. Imam yang tidak suka melihat bokep-bokep internet, tahu akan akibatnya adalah zina mata, zina batin dan juga zina bayangan. Alangkah indahnya dan bahagianya jika Imam yang tahu akan hukum agama Islam secara kaffa. Merokok memang tidak ada hadis dan dalil Qurannya, tetapi sejarah sepanjang kehidupann Rasull merokok adalah makruh, sedekah tidak diutamakan, membela beli rokok dengan nilai nomimal dipentingkan. Belanja istri tidak didahulukan, rokoklah teman isap sejatinya. Alangkah sedihnya melihat Imam yang begitu. Berapa sudah uang yang seharusnya bisa terkumpul di tempat kaleng bekas susu SGM? Sehari dua bungkus, sehari Rp 45.000, sebulan 45.000, X 30= 1.350.000, satu tahun? Nilai nomimal yang selayaknya patut untuk istri yang mendampingi 24 jam dengan servis memuaskan. Alangkah sedihnya jika Imam yang merasa selalu benar dan benar, lalu? Untuk apa kalau Imam yang masih mengagungkan label dirinya dengan kesucian? Baik di mata masyarakat, akan tetapi di dalam istrinya menangis dalam kesedihan, pangkat? Harga diri? Profil diri? Kebanggan simbol? Apakah semua itu akan nyata dan membawa bahagia? Apakah itu semua akan membawa pada surga? Imam yang sejatinya pasti akan mendengar, bercermin, merasa ada dibalik semua itu adalah istri. Mungkin Tuhan tak berkehendak aku bahagia di dunia. Imam yang bisa membuat istrinya tersenyum dengan senang, saat melihat menata tanaman, menyiram bunga di halaman, berjalan-jalan di waktu fajar, saling berdizkir dalam ucapan, menghirup udara segar di waktu matahari menyambut. Alangkah nikmatnya hal yang kecil, sederhana, tetapi sungguh itulah impian istri, tidak mahal, murah dan berdampak sehat buat tubuh. Itu hanya sedikit harapan istri untuk Imamnya. Saling sapa lembut mesra, duduk di kursi menatap keramaian jalan, menatap langit cerah...itu sungguh akan buat istri bahagia...tidak sekali lagi dengan uang uang uang! Pondasi awal dalah cinta dan mencinta, kasih dan mengasih. Lalu jika keadaan tidak sejalan dengan itu, alangakah sedihnya kehidupan yang akan bersambung dengan yang namanya langgen. Bayangkan...ketika sebuah suara panggilan nama diri tak pernah disebut, dicari atau bahkan diingat. Apakah yang akan terjadi? Asing, lalu mengasingkan diri. Menjadi pribadi yang tak dikehendaki. Imam yang sudah berkeluarga lalu menikah dengan harapan bisa melupakan masa-masa indahnya dulu dengan sang mantan atau dengan harapan tidak jajan di luar, menghindar kebutuhan yang vital lalu mencari pasangan. Apakah mungkin akan bahagia dengan menikah kedua kalinya? Tidak itu yang terjadi faktanya, unsur harta, unsur tidak rela, unsur sempurna, unsur sifat..menjadi harga mati yang tak bisa dicari di orang lain. Abai mengabaikan, akhirnya terjadi. Ini fakta yang terjadi pada kehidupan yang sedang aku jalani. Hutang budi? Hutang kebaikan? Faktor janji? Faktor uang? Semua menjadi satu kesatuan yang tak bisa  dihindarkan. Pernikahan yang semestinya tidak terjadi, terjadilah! Beruntung? Buntung? Atau bahagia? Tidak mungkin jawaban yang tepat. Selisih paham, saling hina, saling serang, saling tuduh, saling benci, saling diam, saling dendam, itu menjadi faktor yang akhirnya timbul. Bayangkan! Apakah ada kebahagian batin? Mungkin tidak itu jawaban yang tepat yang ada. Akhirnya masing-masing ingin menjadi pemenang dalam drama yang telah diciptakan. Apakah ini juga takdir Tuhan? Aliran paham Jabariyah selalu pasrah dalam catatan sejarah. Adakah bisa melawan semua ketidak adilan? Merasa, itu yang menjadi senjata dalam perbedaan, layak dan tidak layak, pantas dan tidak pantas, akhirnya bukan sebuah jawaban. Tetapi pemaksaan kehendak sepihak. Masihkah bisa bermimpi indah dengan harapan Imam yang sederhana dan membuat istri bahagia? Lagi-lagi bertanya pada Tuhan, apakah ini kehendakMu Tuhan? Apakah masih ada waktu jika tidak ada keselarasan dalam batin? Apakah tidak menjadi munafik ketika diam, tetapi hati mengonggong dengan kencangnya. Suara asing selalu muncul dalam kesempatan, benci dan merasa benar selalu menonjol dalam kesempatan. Aku tak ada daya, sebab apa, aku ini siapa? Merasa dan dirasa tidak pantas aku berlagak punya. Diam dalam kesedihan yang mendalam. Barharap Tuhan membuat catatan aku dalam takdir kehidupan yang cepat berahkir, atau mungkin aku harus tegar, dan kuat serta sabar?
Ini fakta tentang kehidupan yang tak pernah menjadi impian. Imam yang seperti apa dan bagaimana aku dapatkan, bukan catatan dalam kebahagian. Miris, meringgis, sedih cuma batin yang merasakan semua. Ada sebuah teguran lembut dari seorang teman, kalau tak bisa dipertahankan, kenapa masih di sini? Bahagiakah? Apakah hadirmu dinanti mereka? Apakah namamu indah di hati mereka? Apakah sosokmu menjadi figur  buat mereka? Fakta itu pun tidak ada. Lalu apakah yang akan dinanti? Apakah tubuhmu berarti dalam hidupnya sebagai istri yang agung dan mulia seperti para istri nabi? Tidak juga faktanya. Terasa terniang semua yang terjadi, bukan tidak mudah memaafkan, aka tetapi bekas yang telah tertanam dengan simbol kebencian, kemarahan, kesombongan, tak akan pernah hilang dalam ingatan. Mungkin sekali lagi Tuhan telah takdirkan. Ataukah masih  bisa dilawan? Teman juga menegur dengan kelembutan, orang kaya dapat istri orang kaya, orang miskin dapat istri orang miskin, orang pandai dapat istri orang pandai, orang baik dapt istri orang baik, orang jahat dapat istri orang jahat. Orang germo dapat istri pelacur, orang haji dapat istri orang haji, orang duda dapat istri orang janda, orang pembohong dapat istri pembohong, lalu aku kategori mana? Hanya bercermin dalam diri, ketika aku memberi label baik pada diri, aku juga seharusnya mendapatkan Imam yang senada dengan lebel diri, fakta? Atau aku tidak sebaik yang aku kira? Aku tidak tahu lagi mau berkata apa. Tuhan sebenarnya sedang buat rencana yang indah, yang aku tak tahu akan seperti apa. Aku bermimpi dalam senyum bahagia, bersama dua anak yang telah aku lahirkan, yang telah aku besarkan. Mereka tak memberikan milyaran uang, rumah mewah, mobil mewah, atau mungkin juga makan daging sapi setiap hari. Tetapi senyum mereka, panggilan merdu mereka, panggilan jelek mereka, suara sumbang mereka, tawa mereka, dan juga sedih mereka, membuat aku masih semangat dalam hidup. Sedikit demi sedikit aku menghapus air mata yang tiba-tiba saja mengalir hangat. Mungkin sama dengan andai pasangan kita juga sudah mempunyai anak, kebahagian itu ada pada mereka, cucu mereka, senyum mereka, panggilan mereka, kedekatan mereka. Semua tidak akan didapat pada pasangan kedua. Itu fakta, alangkah sedihnya ketika harapan itu tidak sejalan dengan masa dulu yang indah. Lalu apakah akan dipertahankan jika ternyata tidak seirama dengan musik tempo dulu? Tuhan, catatan ini tersembunyi dalam hatiku. Aku hanya mampu berkata dalam tulisan, masih berharap adanya keajaiban Tuhan ciptakan kebahagianku.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar