CATATAN TERSEMBUNYI
DALAM HATI
OLEH JOY AMARTA
Kelam malam semakin
menusuk tubuh. Terkadang dalam kesepian terhempas rasa yang begitu syahdu pada
kemesraan. Berkhayal dalam dekapan kasih sayang seorang imam yang berarti untuk
hidup dan kehidupanku. Berjalan bersama dalam semisi dan sevisi, selaras dan sehati,
sepandangan dan setujuan. Mungkin Tuhan tak perkenankan menjadi istri yang
mendampingi apa yang aku mau, imam yang dengan kasih sayang penuh terhadap
istri. Yang bicara lembut dan sopan terhadap istri, yang menatap lembut matanya
kepada istri, yang mengucapkan salam setiap keluar rumah. Mimpi yang tak akan
pernah terwujud mungkin sudah kehendak Tuhan. Pasrah seperti aliran paham
Jabariyah. Imam yang bisa membangunkan istrinya diseperempat malam, yang
bersama-sama dengan ucapan canda mesra, rayu-merayu. Alangkah bahagia bisa
berjamaah bersama, dengan doa bersama, berharap yang sama pada tujuan yang
sama, pada Rabb yang sama. Alangkah nikmatnya hidup dengan penuh rahmat kasih
sayang. Tak ada bentak, kata kasar, pukul meja atau pun pukul lemari, air mata
mengalir pastilah air mata behagia. Imam yang patuh pada aturan agama, menjauhi
ghibah sesama lelaki, menjauhi prasangka buruk terhadap istrinya. Tidak mudah
bercerita kepada teman, tidak mudah berkeluh kesah dengan teman, alangkah
bahagia istri jika yang menjadi sandaran adalah dirinya. Imam yang tidak suka
melihat bokep-bokep internet, tahu akan akibatnya adalah zina mata, zina batin
dan juga zina bayangan. Alangkah indahnya dan bahagianya jika Imam yang tahu
akan hukum agama Islam secara kaffa. Merokok memang tidak ada hadis dan dalil
Qurannya, tetapi sejarah sepanjang kehidupann Rasull merokok adalah makruh,
sedekah tidak diutamakan, membela beli rokok dengan nilai nomimal dipentingkan.
Belanja istri tidak didahulukan, rokoklah teman isap sejatinya. Alangkah
sedihnya melihat Imam yang begitu. Berapa sudah uang yang seharusnya bisa
terkumpul di tempat kaleng bekas susu SGM? Sehari dua bungkus, sehari Rp
45.000, sebulan 45.000, X 30= 1.350.000, satu tahun? Nilai nomimal yang
selayaknya patut untuk istri yang mendampingi 24 jam dengan servis memuaskan.
Alangkah sedihnya jika Imam yang merasa selalu benar dan benar, lalu? Untuk apa
kalau Imam yang masih mengagungkan label dirinya dengan kesucian? Baik di mata
masyarakat, akan tetapi di dalam istrinya menangis dalam kesedihan, pangkat?
Harga diri? Profil diri? Kebanggan simbol? Apakah semua itu akan nyata dan
membawa bahagia? Apakah itu semua akan membawa pada surga? Imam yang sejatinya
pasti akan mendengar, bercermin, merasa ada dibalik semua itu adalah istri.
Mungkin Tuhan tak berkehendak aku bahagia di dunia. Imam yang bisa membuat
istrinya tersenyum dengan senang, saat melihat menata tanaman, menyiram bunga
di halaman, berjalan-jalan di waktu fajar, saling berdizkir dalam ucapan,
menghirup udara segar di waktu matahari menyambut. Alangkah nikmatnya hal yang
kecil, sederhana, tetapi sungguh itulah impian istri, tidak mahal, murah dan
berdampak sehat buat tubuh. Itu hanya sedikit harapan istri untuk Imamnya.
Saling sapa lembut mesra, duduk di kursi menatap keramaian jalan, menatap
langit cerah...itu sungguh akan buat istri bahagia...tidak sekali lagi dengan
uang uang uang! Pondasi awal dalah cinta dan mencinta, kasih dan mengasih. Lalu
jika keadaan tidak sejalan dengan itu, alangakah sedihnya kehidupan yang akan
bersambung dengan yang namanya langgen. Bayangkan...ketika sebuah suara
panggilan nama diri tak pernah disebut, dicari atau bahkan diingat. Apakah yang
akan terjadi? Asing, lalu mengasingkan diri. Menjadi pribadi yang tak
dikehendaki. Imam yang sudah berkeluarga lalu menikah dengan harapan bisa
melupakan masa-masa indahnya dulu dengan sang mantan atau dengan harapan tidak
jajan di luar, menghindar kebutuhan yang vital lalu mencari pasangan. Apakah
mungkin akan bahagia dengan menikah kedua kalinya? Tidak itu yang terjadi
faktanya, unsur harta, unsur tidak rela, unsur sempurna, unsur sifat..menjadi
harga mati yang tak bisa dicari di orang lain. Abai mengabaikan, akhirnya
terjadi. Ini fakta yang terjadi pada kehidupan yang sedang aku jalani. Hutang
budi? Hutang kebaikan? Faktor janji? Faktor uang? Semua menjadi satu kesatuan
yang tak bisa dihindarkan. Pernikahan
yang semestinya tidak terjadi, terjadilah! Beruntung? Buntung? Atau bahagia?
Tidak mungkin jawaban yang tepat. Selisih paham, saling hina, saling serang,
saling tuduh, saling benci, saling diam, saling dendam, itu menjadi faktor yang
akhirnya timbul. Bayangkan! Apakah ada kebahagian batin? Mungkin tidak itu
jawaban yang tepat yang ada. Akhirnya masing-masing ingin menjadi pemenang
dalam drama yang telah diciptakan. Apakah ini juga takdir Tuhan? Aliran paham
Jabariyah selalu pasrah dalam catatan sejarah. Adakah bisa melawan semua
ketidak adilan? Merasa, itu yang menjadi senjata dalam perbedaan, layak dan
tidak layak, pantas dan tidak pantas, akhirnya bukan sebuah jawaban. Tetapi
pemaksaan kehendak sepihak. Masihkah bisa bermimpi indah dengan harapan Imam
yang sederhana dan membuat istri bahagia? Lagi-lagi bertanya pada Tuhan, apakah
ini kehendakMu Tuhan? Apakah masih ada waktu jika tidak ada keselarasan dalam
batin? Apakah tidak menjadi munafik ketika diam, tetapi hati mengonggong dengan
kencangnya. Suara asing selalu muncul dalam kesempatan, benci dan merasa benar
selalu menonjol dalam kesempatan. Aku tak ada daya, sebab apa, aku ini siapa?
Merasa dan dirasa tidak pantas aku berlagak punya. Diam dalam kesedihan yang
mendalam. Barharap Tuhan membuat catatan aku dalam takdir kehidupan yang cepat
berahkir, atau mungkin aku harus tegar, dan kuat serta sabar?
Ini fakta tentang
kehidupan yang tak pernah menjadi impian. Imam yang seperti apa dan bagaimana
aku dapatkan, bukan catatan dalam kebahagian. Miris, meringgis, sedih cuma
batin yang merasakan semua. Ada sebuah teguran lembut dari seorang teman, kalau
tak bisa dipertahankan, kenapa masih di sini? Bahagiakah? Apakah hadirmu
dinanti mereka? Apakah namamu indah di hati mereka? Apakah sosokmu menjadi
figur buat mereka? Fakta itu pun tidak
ada. Lalu apakah yang akan dinanti? Apakah tubuhmu berarti dalam hidupnya
sebagai istri yang agung dan mulia seperti para istri nabi? Tidak juga
faktanya. Terasa terniang semua yang terjadi, bukan tidak mudah memaafkan, aka
tetapi bekas yang telah tertanam dengan simbol kebencian, kemarahan,
kesombongan, tak akan pernah hilang dalam ingatan. Mungkin sekali lagi Tuhan
telah takdirkan. Ataukah masih bisa
dilawan? Teman juga menegur dengan kelembutan, orang kaya dapat istri orang
kaya, orang miskin dapat istri orang miskin, orang pandai dapat istri orang
pandai, orang baik dapt istri orang baik, orang jahat dapat istri orang jahat.
Orang germo dapat istri pelacur, orang haji dapat istri orang haji, orang duda
dapat istri orang janda, orang pembohong dapat istri pembohong, lalu aku
kategori mana? Hanya bercermin dalam diri, ketika aku memberi label baik pada
diri, aku juga seharusnya mendapatkan Imam yang senada dengan lebel diri,
fakta? Atau aku tidak sebaik yang aku kira? Aku tidak tahu lagi mau berkata
apa. Tuhan sebenarnya sedang buat rencana yang indah, yang aku tak tahu akan
seperti apa. Aku bermimpi dalam senyum bahagia, bersama dua anak yang telah aku
lahirkan, yang telah aku besarkan. Mereka tak memberikan milyaran uang, rumah
mewah, mobil mewah, atau mungkin juga makan daging sapi setiap hari. Tetapi
senyum mereka, panggilan merdu mereka, panggilan jelek mereka, suara sumbang
mereka, tawa mereka, dan juga sedih mereka, membuat aku masih semangat dalam
hidup. Sedikit demi sedikit aku menghapus air mata yang tiba-tiba saja mengalir
hangat. Mungkin sama dengan andai pasangan kita juga sudah mempunyai anak,
kebahagian itu ada pada mereka, cucu mereka, senyum mereka, panggilan mereka,
kedekatan mereka. Semua tidak akan didapat pada pasangan kedua. Itu fakta,
alangkah sedihnya ketika harapan itu tidak sejalan dengan masa dulu yang indah.
Lalu apakah akan dipertahankan jika ternyata tidak seirama dengan musik tempo
dulu? Tuhan, catatan ini tersembunyi dalam hatiku. Aku hanya mampu berkata
dalam tulisan, masih berharap adanya keajaiban Tuhan ciptakan kebahagianku.





0 komentar